YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Selasa, 23 April 2013


 Assalamualaikum,,,teman-teman.Kali ini saya akan menyajikan sebuah cerpen untuk kalian semua. cerpen ini menceritakan tentang adat istiadat yang masih berhubungan dengan keagamaan. di baca ya... :)
Jilbab Putih Sabrina
                                                                  oleh: Mila Apriani                
         
                Adzan berkumandang dimana-mana dengan suara yang indah diiringi suara ayam berkokok yang seakan-akan menjawab suara adzan itu .Kedua mata yang terpejam dengan nyenyak segera terbuka secara perlahan dilanjutkan dengan berwudhu mengusap muka,kedua tangan,telinga dan kaki menuju sebuah Masjid untuk melaksanakan shalat Shubuh Berjamaah .Sesaat setelah itu,matahari terbit dari sebelah timur,burung-burung berkicau dan terbang untuk melakukan aktivitasnya masing-masing,buah-buahan terlihat segar dipohonnya yang berkilau dengan adanya embun disekitarnya terutama didedaunan yang menandakan pagi telah tiba untuk disambuk dengan penuh semangat.
          Sebuah Desa di kota Sampang,di Madura (Jawa Timur),yang bernama Desa Banjar Billah Tambelangan terdapat sebuah Pondok Pesantren yang cukup banyak santrinya.Saat ini adalah tahun ajaran baru,pastinya akan ada siswa siswi yang akan mendaftar di Pondok Pesantren tersebut dan akan menjadi seorang Santri Pesantren itu.Salah satu calon Santri itu adalah Sabrina yang berasal dari keluarga kurang mampu yang tinggal di Kota Bangkalan-Madura.
          Inilah salah satu kebiasaan orang Madura,yaitu sebagian besar anak-anaknya akan disekolahkan di Pondok Pesantren,baik itu yang kaya,yang sederhana ataupun yang kurang mampu sekalipun.di Madura itu bisa dibilang adat istiadat nya masih cukup kuat.Salah satu contohnya adalah seorang perempuan dan lelaki yang bukan muhrimnya,apabila ketahuan selalu berduaan (jalan berduaan) pasti akan segera ditindak lanjuti misalnya langsung dinikahkan,berbeda dengan kota lainnya yang bisa dikatakan pergaulan nya masih cukup bebas dan hanya ada segelintir orang yang mengikuti aturan ini,khususnya orang Madura itu sendiri yang tinggal diluar wilayah Madura.Mungkin ini merupakan salah satu penyebabnya anak-anak Madura banyak yang disekolahkan ke Pondok Pesantren.Selain itu ,ini bertujuan agar anak-anak itu dilatih menjadi orang yang taat beribadah dan mandiri.
          Sabrina adalah anak yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya.Untuk sekolah SD dan SMP,dia tidak sekolah di Pondok Pesantren.Jadi hanya SMA nya,Sabrina yang akan melanjutkan ke Pondok Pesantren.Saat ini,Sabrina menginginkan sebuah Jilbab putih yang begitu indah yang ada di Pasar Senin-Kamis,Madura.Setiap hari kamis ,Sabrina pasti selalu pergi kepasar Senin-Kamis itu untuk berbelanja membantu ibunya yang berjualan Gado-Gado,salah satu makanan khas Madura dan Sabrina selalu memperhatikan jilbab putih itu.Dalam hatinya,ia berkata kapan dia bisa membeli jilbab itu,tetapi disamping itu dia juga berpikir bahwa untuk makan sehari-hari saja Sabrina dan kedua orang tuanya masih pas-pas an apalagi untuk membeli jilbab itu.
          Beberapa hari setelah itu,Sabrina bersama kedua orang tuanya pergi menuju Pondok Pesantren yang cukup jauh dari rumahnya itu menggunakan angkot.Sesampainya disana,Kedua orang tua Sabrina yang bernama Ibu Sakdiyah dan Bapak Syamsul pergi menuju ruangan kerja pimpinan Pondok Pesantren itu untuk menitipkan Sabrina.Pondok Pesantren itu terbilang cuup murah untuk biaya pendaftarannya,bahkan biaya yang lainnya telah digratiskan karena adanya bantuan dari Pemerintah dan masyarakat sekitarnya.Setelah berbicara cukup lama dengan pimpinan Pondok Pesantren itu,kedua orang tua Sabrina segera pulang dan Sabrina bersalaman kepada mereka dengan rasa sedih karena dia akan tinggal di Pondok Pesantren itu dalam waktu yang cukup lama tanpa kedua orang tuanya.
          Angkot itu sudah menunggu kedua orang tua Sabrina cukup lama didepan Pondok Pesantren itu hingga akhirnya mereka muncul juga.Segera mereka masuk ke angkot itu dengan eksoresi wajah yang sedih berpisah dengan Sabrina dan juga penuh harapan bahwa saat Sabrina sudh menyelesaikan sekolahnya dari Pondok Pesantren itu,ia akan menjadi orang yang sukses.Lambaian tangan kedua orang tua Sabrina dan Sabrina masih berlangsung walaupun sudah kelihatan sangat jauh yang diawali degan ucapan salam.
          Pimpinan Pondok Pesantren itu menghampiri Sabrina untuk mengantarkan dia ke sebuah kamar yang akan ia tempayi selama dia tinggal di Pondok Pesantren itu.Secara kebetulan,dsebuah selasar Pondok pesantren itu yang dilewati Sabrina dan pimpinan Pondok Pesantren itu,Sabrina bertemu dengan seorang Pemud yang memang dari jauh,lelaki itu selalu memandanginya dengan wajahnya yang sangat polos dan senyumannya yang sangat manis.Secara tiba-tiba,Sabrina juga melihat kearah lelaki itu dan Sabrina hanya tersenyum memandang lelaki itu.
          Sabrina masuk kekamar itu setelah dipersilakan oleh Pimpinan Pesantren itu,Bapak Qosim Vad’aq.Sabrina duduk sejenak di tempat tidur kamar itusambil mengingat wajah pemuda itu dan secara tiba-tiba,dia sadar dengan lamunan itu sehingga dia segera menghilangkan lamunan itu dari pikiranny,dilanjutkan dengan membereskan baju-baju yang akan diletakkan didalam lemari itu.
          Sudah cukup lama Sabrina tinggal di Pondok Pesantren itu,sehingga secara otomatis Sabrina sudah banyak mengenal santri lainnya yang setingkat dengannya ataupun Seniornya. Sabrina dikenal baik oleh Santri lainnya dan juga oleh Guru nya.Sabrina sering membantu kakak seniornya yang bertugas memasak di Pondok Pesantren itu.Hingga suatu hari dia bersama kakak seniornya pergi kepasar untuk membeli bahan makanan yang akan dimasaknya nanti.Mereka berbelanja dipasar Senin-Kamis dan dipasar itulah ada sebuah jilbab yang ingin dibeli oleh  Sabrina sejak dulu sebelum ia tinggal di Pondok Pesantren itu karena begitu indah hiasan pernak pernik jilbab itu dan warna putih jilbab itu  yang berarti adalah kesucian.
          Tiba dipasar itu,Sabrina berdiri tegak didepan toko jilbab itu menuju tempat yang menjual bahan makanan bersama kakak-kakak seniorny.Tetapi,Sabrina berhenti sejenak memandang kearah jilbab itu dengan penuh harapan agar suatu hari nanti,dia bisa membeli jilbab iu.Secara tidak disadari ,ternyata lelaki yang saat bertemu dengan Sabrina memandangi dia disebuah selasar saat Sabrina pertama kali masuk di Pondok Pesantren itu ternyata dia mengikuti Sabrina yang pergi kepasar bersama kakak seniornya itu.Lelaki itu bernama Muhammad Zainal dan dia memandangi Sabrina yang lagi memperhatikan jilbab putih itu.Muhammad Zainal mempunyai perasaan suka yang tulus kepada Sabrina dan dalam hatinya,ia berkata bahwa ia akn mengungkapkannya perasaan nya itu di suatu hari nanti  kepada Sabrina serta akan memberikan jilbab putih dan memberikan jilbab tersebut kepada Sabrina.
          Saat Sabrina dan kakak seniornya pergi menuju ke tempat yang menjual bahan makanan,Muhammad Zainal segera menghampiri sebuah Toko yang menjual Jilbab Putih itu untuk membeli jilbab itu yang nantinya akan diberikan kepada Sabrina,gadis yang ia sayangi dan ia cintai itu walaupun sampai saat itu Sabrina belum mengetahui tentang    perasaan Muhammad Zainal itu.Setelah cukup lama Sabrina dan kakak seniornya berbelanja,mereka pulang menuju Pondok Pesantren.Saat berjalan melewati Toko jilbab itu,Sabrina segera melihat jilbab itu,tetapi  ekspresi wajah Sabrina berubah menjadi sedih karena jilbab putih itu sudah tidak ada di toko itu dan Sabrina juga menyadari bahwa ia takkan bisa membeli jilbab itu karena keterbatasan ekonomi apalagi apalagi untuk jilbab itu yang harganya dapat dipastikan cukup mahal.
          Walaupun Sabrina tidak bisa membeli jilbab itu, dia selalu menjalani hari-harinya di Pondok pesantrennya dengan penuh semangat.Terkadang Sabrina sering bertemu dengan Muhammad Zainal terutama saat akan melaksanakan Shalat berjamaah di Mhusolla Pondok Pesantrennya.Ternyata tanpa disadari,Sabrina juga menyimpan rasa suka kepada Muhammad Zainal.Waktu tidak terasa sudah berlalu,saat itu Sabrina sudah selesai menjalani Pendidikan Sekolah SMA  di Pondok Pesantrennya.
          Tibalah Acara Imtihan yang artinya adalah sebuah acara perpisahan antar Santri karena sudah menyelesaikan pendidikannya.Saat tiba acara itu,Sabrina teringat kepada Muhammad Zainal,seorang Santri Senior  Pondok Pesantrennya yang sudah lulus setahun yang lalu dan mempunyai rasa suka kepada Sabrina. Dalam hatinya ,ia berharap agar Muhammad Zainal tahu tentang Acara Imtihan tersebut dan bisa hadir.Secara terkejut,ternyata Muhammad Zainal hadir di acara Imtihan tersebut karena dia akan menepati janjinya untuk mengungkapkan perasaannya kepada Sabrina dan akan memberikan Jilbab Putih yang sangat diinginkan oleh Sabrina yang dibelinya tanpa sepengatahuan Sabrina.
          Saat Sabrina duduk disebuah kursi,dibawah panggung Acara Imtihanan tersebut,Muhammad Zainal menghampirinya.Muhammad Zainal langsung berkata bahwa ia sebenarnya menyukainya bahkan sangat mencintai Sabrina.Mendengar itu, Sabrina tidak menyangka, Sabrina berkata kepada Muhammad Zainal bahwa dia merasa tidak pantas dengan Muhammad Zainal karena Muhammad Zainal adalah orang kaya dan Sabrina merasa tidak sederajat dengannya.Setelah Sabrina berkata itu,Muhammad Zainal langsung berkata kepadanya agar jangan menghiraukan masalah itu karena disisi Allah,derajat manusia itu sama dan Muhammad Zainal kepada Sabrina apakah ia mau dilamar dan menikah dengannya? Karena Sabrina juga mempunyai perasaan yang sama kepada Muhammad Zainal jadi dia menerima cinta Muhammad Zainal.
          Setelah itu Muhammad Zainal juga menjelaskan tentang dia yang telah membeli jilbab putih dan langsung memberikan jilbab tersebut.Sabrina menerima pemberian jilbab itu dan ia mersa sangat senang.Muhammad Zainal berkata kepadanya bahwa karena jilbab ini dia mempunyai keyakinan cintanya kepada Sabrina dan mungkin jilbab itu juga merupakan perantara dari Allah untuk menyatukan ia dengan Sabrina.Sabrina  tersenyum dan ia berkata bahwa ia semakin mencintai Muhammad Zainal karena telah memberikan ia sebuah jilbab yang sangat  ia impikan itu.Bukan hanya itu,perasan Sabrin dan Muhammad Zainal itu sangatlah tulus.Akhirnya Sabrina dan Muhammad Zainal menikah disertai acara lamaran yang begitu indah dengan berbagai kue lamaran khas Madura yang akan diserahkan kerumah Sabrina.sabrina dan Muhammad Zainal membentuk sebuah keluar yang sangat Sakinah,Mawadah dan Warahma serta mereka mempunyai anak yang alim.Anak-anaknya bernama Nabila dan Ali Ahmad.
          

ditunggu komentarnya ya...
Wassalamualaikum Wr.Wb